Kesenian Tayuban
merupakan salah satu seni kebudayaan yang ada di Blora. Berdasarkan
keterangan - keterangan yang ada, perkataan Tayuban berasal dari kata
Tayub, yang menurut keroto boso adalah ringkasan dari kata “ditoto
guyub”, dan itu adalah bahwa didalam penyajian seni tayuban gerak tari
para penari serta gending iringannya diatur bersama supaya serempak
berdasarkan kesepakatan dari para pemain ( penari dan penabuh ) dengan
para penonton. Sehingga terwujudlah suatu keakraban dan persaudaraan.
Seni Tayub menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang
dihormati oleh masyarakat menurut jenjang kepangkatan mereka masing-
masing.
Penyambutan itu oleh para pemain wanita yang disebut joget dengan cara
menyerahkan sampur ( selendang yang dipakai penari wanita ) atas
petunjuk pengarih. Tamu yang menerima sampur atau istilah ‘ketiban
sampur’ mendapatkan kehormatan untuk menari bersama-sama dengan joget.
Didalam kelompok seni pertunjukan, tayuban dapat digolongkan tari rakyat
tradisional, sifat kerakyatan sangat menonjol, tampak sebagai gambaran
dari jiwa masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat pedesaan yang umum
dijumpai diwilayah Kabupaten Blora, seperti sifat spontanitas,
kekeluagaan, kesederhanaan, sedikit kasar, namun penuh rasa humor.
Sebagaimana ciri khas tari ini yang sudah memasyarakat, maka Tayub sudah
menyebar hampir seluruh Kabupaten Blora. Seni Tayub pada umumnya
dipentaskan pada upacara adat yaitu sedekah desa, sedekah bumi atau
upacara adat lain, khitanan,perkawinan dan sebagainya.
Archive for Oktober 2016
MISTERI BUS PARIWISATA NYASAR DI HUTAN BLORA terjadi LAGI
0
BLORA (BeritaTrans.com) - Bus tiba-tiba masuk ke hutan jati di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kembali menghebohkan banyak orang.
Tanpa sadar, sopir bus dan kernetnya sudah berada di tengah hutan yang gelap saat dini hari.
Peristiwa menghebohkan itu telah beredar viral di dunia maya.
Sejumlah netizen yang membagikan cerita horor itu mengatakan, bila informasi pertamanya diperoleh dari grup pecinta bus, Bismania.
Dalam postingan yang beredar viral itu disebutkan, bus Jati Mas yang hendak menjemput rombongan wisata dari sebuah sekolah dasar (SD) pada Selasa (11/10/2016) pukul 03.00 WIB, bertemu dengan seorang panitia rombongan di tengah jalan.
Panitia tersebut kemudian mengarahkan jalan menuju lokasi yang dimaksud.
Saat bus berjalan pelan, tiba-tiba sopir berhenti karena merasa ada sesuatu yang janggal.
Begitu sadar, ternyata mereka sudah berada di antara rimbunnya pohon jati.
Belum diketahui secara pasti bagaimana mereka memperoleh bantuan, tetapi proses evakuasi bus memerlukan waktu empat jam.
Sopir dan kernetnya merasa bingung dengan apa yang menimpa mereka.
Dari informasi yang diperoleh Tribunjogja.com, peristiwa misterius itu terjadi di daerah Ngronggah Sempu, Kecamatan Kunduran, Blora.
Berdasarkan perhitungan kalender bulan, saat ini merupakan bulan Muharram, atau orang Jawa menyebutnya Suro.
Beberapa tahun silam, juga terjadi peristiwa hampir sama di hutan Blora, yang juga masih masuk bulan Muharram.
1. Mobil Tersesat di Tengah Hutan Tahun 2010
Peristiwa di luar nalar ini dialami oleh pemilik akun Facebook Vicky Satria pada bulan Suro tahun 2010 silam.
Pada Tribunjogja.com Vicky menuturkan, dirinya berkunjung ke rumah temannya yang berada di daerah Kunduran dan Randu Blatung, Blora.
Ia pergi menggunakan mobil bersama seorang temannya dan pulang sudah cukup malam.
i perjalanan pulang, ia merasa daerah yang dilalui begitu ramai seperti di tengah kota.
Ia kemudian bertemu dengan seorang ibu dan anaknya, yang mengaku tak punya uang sehingga meminta untuk diantar pulang.
“Aku lalu memutuskan untuk mengantar pulang ibu itu. Di sana saya dipersilakan mampir dan disuguhi makanan. Habis itu kita pamitan,” ungkap warga Solo itu.
Saat di perjalanan pulang, Vicky merasakan ada sesuatu yang janggal, tetapi tak tahu apa.
Setelah berjalan sekitar 200 meter, ia kemudian meminta temannya menghentikan laju mobil, karena ingin buang air kecil.
Ketika Vicky ke luar dari mobil, ia kaget bukan kepalang.
Ternyata ia sudah berada di tengah hutan gelap gulita yang penuh pohon tinggi, pukul 01.00 dini hari.
Untungnya tak berapa lama dan dalam keadaan setengah sadar, seorang lelaki berpakaian serba putih menghampirinya. Lelaki itu menunjukkan jalan pulang yang benar.
“Setelah itu saya yang nyopir. Jalannya baik-baik aja agak belok-belok. Adzan subuh aku sudah di jalan utama lagi,” tambahnya.
Sampai saat ini, ia masih ingat bagaimana rumah yang ia kunjungi malam itu.
Itu berbentuk rumah khas Jawa dan perabotannya lengkap.
Ia mengaku sudah berdoa saat akan pulang, tetapi pengalaman itu tetap tak bisa dihindari.
2. Bus Pahala Kencana dan Truk Beton, Tahun 2012
Berita mengenai bus Pahala Kencana dan truk beton yang tiba-tiba berada di tengah hutan Blora sempat menghebohkan pada tahun 2012.
Peristiwa itu juga terjadi pada bulan Suro.
Awalnya, bus Pahala Kencana jurusan Jakarta-Madura itu hendak mencari jalan alternatif karena jalur Pantura macet.
Saat sampai di jalur Jaken, Pati, sopir bus sudah merasa berada di jalur Pantura, tetapi justru masuk wilayah KabupatenBlora.
Bus Pahala Kencana tiba-tiba berada di tengah hutan yang masuk wilayah Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Blora, pada tahun 2012.
Bus yang membawa 33 penumpang itu melewati jalan desa dan bertemu truk beton.
Ketika sampai di jalan yang naik, kernet bus justru menyarankan agar truk lewat terlebih dahulu.
Begitu giliran bus untuk naik, ban belakangnya justru selip sehingga mundur ke belakang dan menabrak sesuatu.
Sopir dan kernet bus mencoba untuk mengecek kondisinya, tetapi justru mendapat kenyataan di luar nalar.
Bus tersebut sudah berada di tengah hutan belantara yang banyak pohon. Para penumpang bus kemudian dibangunkan pada pukul 02.30 dini hari.
Baru pada pukul 06.30, awak bus meminta bantuan penduduk setempat dan melaporkannya pada polisi.
Mobil patroli yang hendak masuk mengalami kesulitan, karena lokasi bus berada, hanya dihubungkan dengan jalan setapak.
Akhirnya, bus tersebut sampai jalan desa sekitar pukul 18.30 setelah meratakan jalan dam membabat sejumlah pohon jati. (anky).
Tanpa sadar, sopir bus dan kernetnya sudah berada di tengah hutan yang gelap saat dini hari.
Peristiwa menghebohkan itu telah beredar viral di dunia maya.
Sejumlah netizen yang membagikan cerita horor itu mengatakan, bila informasi pertamanya diperoleh dari grup pecinta bus, Bismania.
Dalam postingan yang beredar viral itu disebutkan, bus Jati Mas yang hendak menjemput rombongan wisata dari sebuah sekolah dasar (SD) pada Selasa (11/10/2016) pukul 03.00 WIB, bertemu dengan seorang panitia rombongan di tengah jalan.
Panitia tersebut kemudian mengarahkan jalan menuju lokasi yang dimaksud.
Saat bus berjalan pelan, tiba-tiba sopir berhenti karena merasa ada sesuatu yang janggal.
Begitu sadar, ternyata mereka sudah berada di antara rimbunnya pohon jati.
Belum diketahui secara pasti bagaimana mereka memperoleh bantuan, tetapi proses evakuasi bus memerlukan waktu empat jam.
Sopir dan kernetnya merasa bingung dengan apa yang menimpa mereka.
Dari informasi yang diperoleh Tribunjogja.com, peristiwa misterius itu terjadi di daerah Ngronggah Sempu, Kecamatan Kunduran, Blora.
Berdasarkan perhitungan kalender bulan, saat ini merupakan bulan Muharram, atau orang Jawa menyebutnya Suro.
Beberapa tahun silam, juga terjadi peristiwa hampir sama di hutan Blora, yang juga masih masuk bulan Muharram.
1. Mobil Tersesat di Tengah Hutan Tahun 2010
Peristiwa di luar nalar ini dialami oleh pemilik akun Facebook Vicky Satria pada bulan Suro tahun 2010 silam.
Pada Tribunjogja.com Vicky menuturkan, dirinya berkunjung ke rumah temannya yang berada di daerah Kunduran dan Randu Blatung, Blora.
Ia pergi menggunakan mobil bersama seorang temannya dan pulang sudah cukup malam.
i perjalanan pulang, ia merasa daerah yang dilalui begitu ramai seperti di tengah kota.
Ia kemudian bertemu dengan seorang ibu dan anaknya, yang mengaku tak punya uang sehingga meminta untuk diantar pulang.
“Aku lalu memutuskan untuk mengantar pulang ibu itu. Di sana saya dipersilakan mampir dan disuguhi makanan. Habis itu kita pamitan,” ungkap warga Solo itu.
Saat di perjalanan pulang, Vicky merasakan ada sesuatu yang janggal, tetapi tak tahu apa.
Setelah berjalan sekitar 200 meter, ia kemudian meminta temannya menghentikan laju mobil, karena ingin buang air kecil.
Ketika Vicky ke luar dari mobil, ia kaget bukan kepalang.
Ternyata ia sudah berada di tengah hutan gelap gulita yang penuh pohon tinggi, pukul 01.00 dini hari.
Untungnya tak berapa lama dan dalam keadaan setengah sadar, seorang lelaki berpakaian serba putih menghampirinya. Lelaki itu menunjukkan jalan pulang yang benar.
“Setelah itu saya yang nyopir. Jalannya baik-baik aja agak belok-belok. Adzan subuh aku sudah di jalan utama lagi,” tambahnya.
Sampai saat ini, ia masih ingat bagaimana rumah yang ia kunjungi malam itu.
Itu berbentuk rumah khas Jawa dan perabotannya lengkap.
Ia mengaku sudah berdoa saat akan pulang, tetapi pengalaman itu tetap tak bisa dihindari.
2. Bus Pahala Kencana dan Truk Beton, Tahun 2012
Berita mengenai bus Pahala Kencana dan truk beton yang tiba-tiba berada di tengah hutan Blora sempat menghebohkan pada tahun 2012.
Peristiwa itu juga terjadi pada bulan Suro.
Awalnya, bus Pahala Kencana jurusan Jakarta-Madura itu hendak mencari jalan alternatif karena jalur Pantura macet.
Saat sampai di jalur Jaken, Pati, sopir bus sudah merasa berada di jalur Pantura, tetapi justru masuk wilayah KabupatenBlora.
Bus Pahala Kencana tiba-tiba berada di tengah hutan yang masuk wilayah Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Blora, pada tahun 2012.
Bus yang membawa 33 penumpang itu melewati jalan desa dan bertemu truk beton.
Ketika sampai di jalan yang naik, kernet bus justru menyarankan agar truk lewat terlebih dahulu.
Begitu giliran bus untuk naik, ban belakangnya justru selip sehingga mundur ke belakang dan menabrak sesuatu.
Sopir dan kernet bus mencoba untuk mengecek kondisinya, tetapi justru mendapat kenyataan di luar nalar.
Bus tersebut sudah berada di tengah hutan belantara yang banyak pohon. Para penumpang bus kemudian dibangunkan pada pukul 02.30 dini hari.
Baru pada pukul 06.30, awak bus meminta bantuan penduduk setempat dan melaporkannya pada polisi.
Mobil patroli yang hendak masuk mengalami kesulitan, karena lokasi bus berada, hanya dihubungkan dengan jalan setapak.
Akhirnya, bus tersebut sampai jalan desa sekitar pukul 18.30 setelah meratakan jalan dam membabat sejumlah pohon jati. (anky).
By : Unknown
Kesenian Tayub Blora
0

Irama gending mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari.
Kesenian Tayuban merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara ledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.
Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan.
Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan. Tak Kian Redup Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Lamongan. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan Kesenian Tayuban, bila tidak diuri-uri sedini mungkin.
Kesenian Tayuban

Irama gending mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari.
Kesenian Tayuban merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara ledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.
Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan.
Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan. Tak Kian Redup Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Lamongan. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan Kesenian Tayuban, bila tidak diuri-uri sedini mungkin.
By : Unknown
BARONGAN BLORA
0

Sedikit ringkasan tentang Seni Barong Blora : Barongan Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit.
Tari barongan ini diambil dari cerita Panji. Panji adalah seorang Putra Kerajaan Singosari yang menyamar sebagai pengamen. Dia mengamen dengan melakukan tari barongan. Penyamaran yang dia lakukan adalah untuk mengembara mencari kekasihnya yaitu Ayu Galuh CandraKirana. demikian sedikit ringkasan tentang Barongan Blora yang sampai sekarang menjadi ikon dari Kabupaten Blora..
Kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Namun, Kabupaten Blora yang bisa dikatakan paling eksis. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan.
Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Tradisi lamporan—ritual tolak bala yang berasal dari Desa Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.
Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.
Sedikit ringkasan tentang Seni Barong Blora : Barongan Blora, merupakan salah satu kesenian rakyat yang sangat populer di kalangan masyarakat Blora. Alur cerita bersumber dari hikayat panji. Di dalam seni Barong tercermin sifat-sifat kerakyatan seperti spontanitas, sederhana, keras, kompak yang dilandasi kebenaran. Kesenian barongan berbentuk tarian kelompok yang terdiri dari tokoh Singo Barong, Bujangganong, Joko Lodro/Gendruwon. Jaranan/Pasukan Berkuda, serta prajurit.
Tari barongan ini diambil dari cerita Panji. Panji adalah seorang Putra Kerajaan Singosari yang menyamar sebagai pengamen. Dia mengamen dengan melakukan tari barongan. Penyamaran yang dia lakukan adalah untuk mengembara mencari kekasihnya yaitu Ayu Galuh CandraKirana. demikian sedikit ringkasan tentang Barongan Blora yang sampai sekarang menjadi ikon dari Kabupaten Blora..
Kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Namun, Kabupaten Blora yang bisa dikatakan paling eksis. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan.
Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Tradisi lamporan—ritual tolak bala yang berasal dari Desa Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.
Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.
By : Unknown
0
Tradisi tirakatan dalam rangka menyambut 1 Suro 1950 tahun Jawa ini juga diselenggarakan di kediaman Bupati Blora ke-26, Raden Mas Yudhi Sancoyo di jalan Tentara Pelajar kelurahan Kunden Blora. Sejak menjelang maghrib, kediaman Bupati Blora tahun 2008-2010 tersebut telah ramai dengan datangnya banyak tamu dari penjuru pelosok kampung di Blora.
Menurut Raden Mas Hanindyo Andri Haskoro, putra sulung Pak Yudhi (sapaan akrab RM. Yudhi Sancoyo dan RA. Manik Hapsari), tradisi tirakatan tersebit telah dilaksanakan selama ratusan tahun. “Tradisi tirakatan 1 Suro ini telah dilaksanakan selama ratusan tahun. Yang hadir ini, tidak hanya warga Blora tetapi juga rombongan dari Kudus, Pati, Rembang dan Grobogan. Menjelang malam nanti yang hadir akan semakin banyak” jelasnya.
Tirakatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa oleh tokoh agama kelurahan Kunden. Setelah pembacaan tahlil dan doa, dilanjutkan dengan makan bersama. Daun-daun jati yang telah dipersiapkan sebagai alas makan dibagi sesuai dengan jumlah warga yang hadir. Sebelum itu, kain mori (kain kafan) dan seuntai bunga sebagai penutup gentong nasi menjadi rebutan warga.
Setelah makan bersama, dilanjutkan dengan melekan (tidak tidur) sampai tengah malam. Selama melekan, para rombongan dari luar kota tetap setia menunggu pembagian air jamasan pusaka yang dilakukan lepas tengah malam. Mereka berharap, air jamasan pusaka dan beberapa benda yang telah didoakan tersebut dapat menjadi perantara meningkatnya hasil pertanian dan perdagangan mereka [.]
TRADISI SURONAN DI BLORA
Blora – Menurut penanggalan jawa, tanggal 1 Suro 1950 tahun Jawa jatuh pada senin legi malam selasa pahing (03.10.2016). Perhitungan ini didasarkan pada sistem kalender Jawa yang menghitung hari baru pada saat tenggelamnya matahari. Di berbagai tempat, malam tadi diselenggarakan tirakatan untuk menyambut tahun baru Jawa ini.Tradisi tirakatan dalam rangka menyambut 1 Suro 1950 tahun Jawa ini juga diselenggarakan di kediaman Bupati Blora ke-26, Raden Mas Yudhi Sancoyo di jalan Tentara Pelajar kelurahan Kunden Blora. Sejak menjelang maghrib, kediaman Bupati Blora tahun 2008-2010 tersebut telah ramai dengan datangnya banyak tamu dari penjuru pelosok kampung di Blora.
Menurut Raden Mas Hanindyo Andri Haskoro, putra sulung Pak Yudhi (sapaan akrab RM. Yudhi Sancoyo dan RA. Manik Hapsari), tradisi tirakatan tersebit telah dilaksanakan selama ratusan tahun. “Tradisi tirakatan 1 Suro ini telah dilaksanakan selama ratusan tahun. Yang hadir ini, tidak hanya warga Blora tetapi juga rombongan dari Kudus, Pati, Rembang dan Grobogan. Menjelang malam nanti yang hadir akan semakin banyak” jelasnya.
Tirakatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa oleh tokoh agama kelurahan Kunden. Setelah pembacaan tahlil dan doa, dilanjutkan dengan makan bersama. Daun-daun jati yang telah dipersiapkan sebagai alas makan dibagi sesuai dengan jumlah warga yang hadir. Sebelum itu, kain mori (kain kafan) dan seuntai bunga sebagai penutup gentong nasi menjadi rebutan warga.
Setelah makan bersama, dilanjutkan dengan melekan (tidak tidur) sampai tengah malam. Selama melekan, para rombongan dari luar kota tetap setia menunggu pembagian air jamasan pusaka yang dilakukan lepas tengah malam. Mereka berharap, air jamasan pusaka dan beberapa benda yang telah didoakan tersebut dapat menjadi perantara meningkatnya hasil pertanian dan perdagangan mereka [.]
By : Unknown
0
Kecamatan Todanan dipenuhi obyek wisata yang layak untuk dikembangkan
Todanan (06.06.2016) Kecamatan Todanan merupakan salah satu kecamatan di Kabupten Blora yang memiliki potensi pengembangan pariwisata. Jika di Blora timur terdapat kecamatan Cepu dengan sisa – sisa peninggalan kadipaten Jipang – Panolan – nya dan di Blora bagian tengah terdapat kecamatan Bogorejo dengan bentang potensi wisata alam-nya, maka di Blora barat kecamatan Todanan menjadi primadona pariwisata kota Mustika.
Kecamatan Todanan terletak barat laut kabupaten Blora, berbatasan dengan kecamatan lain di kabupaten Blora dan kabupaten lain di provinsi Jawa Tengah. Di sebelah utara, kecamatan Todanan berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Japah dan kabupaten Rembang. Kecamatan Todanan terdiri atas 25 desa, desa dengan wilayah paling luas adalah desa Bedingin dan desa dengan wilayah paling sempit adalah desa Gunungan.
Kecamatan dengan obyek wisata yang melimpah ini memiliki luas 129 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 57.951 jiwa. Sebagian besar penduduk kecamatan Todanan berprofesi sebagai petani. Tiga komoditas utama pertanian kecamatan Todanan adalah Padi, Jagung dan Ketela pohon. Luas lahan persawahan di kecamatan Todanan adalah 4056,5 hektar.
Selain memiliki komoditas tanaman pangan, kecamatan Todanan juga menghasilkan buah – buah lokal seperti Jambu Mete, Durian, Rambutan dan Pisang Byar. Baru – baru ini di kecamatan Todanan dikembangkan varietas pisang cavendish. Produk hortikultura hasil bumi kecamatan Todanan adalah Tomat dan Mentimun.
Untuk memenuhi kebutuhan pertanian, di kecamatan Todanan terdapat kios – kios pertanian dan kelompok usaha pertanian, namun keduanya hanya mencukupi setengah dari kebutuhan pertanian masyarakat Todanan. Sehingga, banyak petani kecamatan Todanan harus mendapatkan kebutuhannya di kecamatan Kunduran.
Sektor pariwisata di kecamatan Todanan berkembang dengan pesat. Mulai dari pariwisata alam sampai pariwisata purbakala. Goa Terawang dan mata air Banyubiru di desa Kedungwungu menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, lokal maupun luar daerah.
Sedangkan Goa Kidang Tinapan merupakan situs arkeologi manusia purba yang baru – baru ini ditemukan fosil manusia pada era Holocen (9000 tahun sebelum masehi). Penemuan ini tidak hanya menghebohkan dunia arkelogi di tanah air, melainkan juga dunia internasional.
Sektor industri di kecamatan Todanan terlihat dari keberadaan pabrik gula PT. GMM (Gendis Multi Mani. Sayangnya, sampai saat ini tingkat kesejahteraan kecamatan todanan berada pada angka 53 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Sebanyak 47 persen penduduk Todanan masih berada dalam kondisi belum sejahtera. Keberadaan PT GMM di kecamatan Todanan dirasa belum meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.
Todanan (06.06.2016) Kecamatan Todanan merupakan salah satu kecamatan di Kabupten Blora yang memiliki potensi pengembangan pariwisata. Jika di Blora timur terdapat kecamatan Cepu dengan sisa – sisa peninggalan kadipaten Jipang – Panolan – nya dan di Blora bagian tengah terdapat kecamatan Bogorejo dengan bentang potensi wisata alam-nya, maka di Blora barat kecamatan Todanan menjadi primadona pariwisata kota Mustika.
Kecamatan Todanan terletak barat laut kabupaten Blora, berbatasan dengan kecamatan lain di kabupaten Blora dan kabupaten lain di provinsi Jawa Tengah. Di sebelah utara, kecamatan Todanan berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Japah dan kabupaten Rembang. Kecamatan Todanan terdiri atas 25 desa, desa dengan wilayah paling luas adalah desa Bedingin dan desa dengan wilayah paling sempit adalah desa Gunungan.
Kecamatan dengan obyek wisata yang melimpah ini memiliki luas 129 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 57.951 jiwa. Sebagian besar penduduk kecamatan Todanan berprofesi sebagai petani. Tiga komoditas utama pertanian kecamatan Todanan adalah Padi, Jagung dan Ketela pohon. Luas lahan persawahan di kecamatan Todanan adalah 4056,5 hektar.
Selain memiliki komoditas tanaman pangan, kecamatan Todanan juga menghasilkan buah – buah lokal seperti Jambu Mete, Durian, Rambutan dan Pisang Byar. Baru – baru ini di kecamatan Todanan dikembangkan varietas pisang cavendish. Produk hortikultura hasil bumi kecamatan Todanan adalah Tomat dan Mentimun.
Untuk memenuhi kebutuhan pertanian, di kecamatan Todanan terdapat kios – kios pertanian dan kelompok usaha pertanian, namun keduanya hanya mencukupi setengah dari kebutuhan pertanian masyarakat Todanan. Sehingga, banyak petani kecamatan Todanan harus mendapatkan kebutuhannya di kecamatan Kunduran.
Sektor pariwisata di kecamatan Todanan berkembang dengan pesat. Mulai dari pariwisata alam sampai pariwisata purbakala. Goa Terawang dan mata air Banyubiru di desa Kedungwungu menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, lokal maupun luar daerah.
Sedangkan Goa Kidang Tinapan merupakan situs arkeologi manusia purba yang baru – baru ini ditemukan fosil manusia pada era Holocen (9000 tahun sebelum masehi). Penemuan ini tidak hanya menghebohkan dunia arkelogi di tanah air, melainkan juga dunia internasional.
Sektor industri di kecamatan Todanan terlihat dari keberadaan pabrik gula PT. GMM (Gendis Multi Mani. Sayangnya, sampai saat ini tingkat kesejahteraan kecamatan todanan berada pada angka 53 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Sebanyak 47 persen penduduk Todanan masih berada dalam kondisi belum sejahtera. Keberadaan PT GMM di kecamatan Todanan dirasa belum meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.
By : Unknown


