Kesenian Tayuban
merupakan salah satu seni kebudayaan yang ada di Blora. Berdasarkan
keterangan - keterangan yang ada, perkataan Tayuban berasal dari kata
Tayub, yang menurut keroto boso adalah ringkasan dari kata “ditoto
guyub”, dan itu adalah bahwa didalam penyajian seni tayuban gerak tari
para penari serta gending iringannya diatur bersama supaya serempak
berdasarkan kesepakatan dari para pemain ( penari dan penabuh ) dengan
para penonton. Sehingga terwujudlah suatu keakraban dan persaudaraan.
Seni Tayub menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang
dihormati oleh masyarakat menurut jenjang kepangkatan mereka masing-
masing.
Penyambutan itu oleh para pemain wanita yang disebut joget dengan cara
menyerahkan sampur ( selendang yang dipakai penari wanita ) atas
petunjuk pengarih. Tamu yang menerima sampur atau istilah ‘ketiban
sampur’ mendapatkan kehormatan untuk menari bersama-sama dengan joget.
Didalam kelompok seni pertunjukan, tayuban dapat digolongkan tari rakyat
tradisional, sifat kerakyatan sangat menonjol, tampak sebagai gambaran
dari jiwa masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat pedesaan yang umum
dijumpai diwilayah Kabupaten Blora, seperti sifat spontanitas,
kekeluagaan, kesederhanaan, sedikit kasar, namun penuh rasa humor.
Sebagaimana ciri khas tari ini yang sudah memasyarakat, maka Tayub sudah
menyebar hampir seluruh Kabupaten Blora. Seni Tayub pada umumnya
dipentaskan pada upacara adat yaitu sedekah desa, sedekah bumi atau
upacara adat lain, khitanan,perkawinan dan sebagainya.
Posted by : Unknown
Senin, 10 Oktober 2016
Kesenian Tayuban

Irama gending mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari.
Kesenian Tayuban merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara ledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.
Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan.
Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan. Tak Kian Redup Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Lamongan. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan Kesenian Tayuban, bila tidak diuri-uri sedini mungkin.